Sunday, November 11, 2012

Kesaksian Bahwan Sudardo Pakpahan

Kesaksian Bahwan Sudardo Pakpahan, S.Th.: "Dari Laki-laki Ke Pria Sejati"
Sinar Viktori Gemilang

Berkali-kali jatuh dalam seks bebas dengan sesama jenis. Sudah lahir baru, masih kambuh juga. Tapi ia tak malu menelanjangi dirinya sendiri.

Waktu itu saya kelas 5 SD. Saya anak bungsu dari 8 bersaudara dan punya abang sulung yang pernah gila, mungkin pernah diguna-gunai orang. Pernah juga sampai dikerangkeng kaki dan tangannya. Setelah abang saya lulus SMA, entah setan apa yang merasukinya, abang meniduri saya. Dia juga onani di depan mata saya. Saat itu saya belum mengerti apa-apa…

Trauma Masa Kecil di Medan
Masuk SMP, saya ikut bibi di Medan, bersekolah di kota. Suatu malam, saya mimpi basah, kok laki-laki yang muncul dalam mimpi? Saya tak paham tapi disitu saya ingat pernah dilecehkan kakak kandung saya sendiri.
Dari sana semua kekacauan itu terjadi. Traumanya membekas.
Pernah malam-malam, ada orang dewasa mengajak onani bareng di lapangan sepak bola dan saya ikuti. Saya masih tak paham dengan yang saya lakukan tapi merasa bersalah. Teman-teman SMP tahu saya homo. Mereka mencoba ‘membantu’ dengan menjodoh-jodohkan dengan teman lawan jenis. Karena di sekolah saya cukup berprestasi, ada lah cewek yang suka sama saya. Cinta monyet. Tapi ya begitulah, saya tak berhenti di situ. Abang sepupu saya sering ngajak nonton blue film. Dari situ saya juga ketagihan pornografi.

Orang Tua Berpisah
Karena orangtua berpisah, saya ikut mamak ke Medan selulus SMP. Waktu SMA sempat pacaran dengan cewek tapi putus karena dia selingkuh. Akhirnya saya main ke diskotik dan ketemu cowok. Dari diskotik, kami making love. Padahal waktu itu saya melayani sebagai guru Sekolah Minggu. Kerinduan untuk mencari Tuhan ada tapi belum kuat.

Di Jakarta
Sebenarnya saya dapat PMDK pas lulus SMA tapi kemauan kedua orangtua berbeda. Saya ikut maunya bapak kuliah jadi guru, tapi cuma bertahan 1 semester. Berkenalan dengan bule saya jatuh lagi. Saya ‘nggak tahan. Akhirnya saya bilang mamak, “Mak, saya mau ke Jakarta, ikut abang. Kerja.” Ternyata di Jakarta keinginan melepaskan syahwat itu makin menjadi-jadi. Kali ini bukan dengan cowok saja, dengan waria pun pernah! Kalau pun saya jatuh cinta dengan cewek, saya nggak pernah coba-coba melakukan hubungan intim dengan cewek. Mungkin karena faktor saya cuma punya 1 saudara perempuan, jadi saya hargai betul. Tapi kalau sama cowok saya libas saja! Gonta-ganti pasangan terus terjadi.
Krisis ‘98 saya di-PHK dan kembali ke Medan lalu mendapatkan kerja. Ada bule lain yang suka ngajak saya tidur di hotel. Dan terjadilah, lagi! Setelah itu dia masih kejar-kejar juga, gantian saya yang ketakutan. Malam-malam pulang kerja, saya telepon pendeta saya, namanya Pak Eddy Trihatmoko. Saya bilang mau curhat. Besoknya, saya bertemu Pak Eddy dan beliau mengonselingi saya.

Saya didoakan dan menangis. Saya merasa plong. Kalau tidak salah itu bulan Maret 1999. Di situlah saya jatuh cinta pertama kali dengan Tuhan Yesus. Betapa luar biasanya kasih Tuhan itu! Aku pikir selama ini aku orang Kristen, sudah mengenal Yesus, sudah mengajar anak Sekolah Minggu, sudah baca Alkitab tapi ternyata bukan itu yang Tuhan mau. Perubahannya tampak di tempat kerja. Teman-teman bilang, “Wan, kamu sekarang lain ya?!. Kamu kok beda sekarang. Wajah kamu bercahaya.” Saya jadi semangat kerja setelah itu. Pak Eddy itulah orang yang Tuhan pakai untuk menyelamatkan saya. Tanpa beliau saya pikir sudah jadi apa saya di luar sana. Saya terbuka tentang masa lalu ke Pak Eddy. Setelah lahir baru godaan itu tetap ada.

Di Yogyakarta
Dari Medan saya menuju Yogya. Niatnya benar-benar ingin tobat maka kaki saya melangkah mantap ke sebuah sekolah teologi di kota ini. Waktu mengisi formulir registrasi mahasiswa baru, saya menulis isian pengalaman masa lalu yang buruk dengan jujur. Karena bocoran itu, ada kakak tingkat mengejek. Dan berita kalau saya ini eks homo menyebar ke kampus. Niat untuk tobat tadi kembali dinodai dengan ejekan-ejekan yang melecehkan, akhirnya saya kembali ke dunia gelap. Selain dalam kampus, saya juga suka dengan banyak lelaki. Ketika kita pernah dilecehkan lalu jatuh dalam pornografi, kita menjadi candu seks! Saya suka sama cowok karena pelampiasan seks saja bukan karena jatuh cinta. Ketemu pria-pria itu di mana? Macam-macam. Kadang-kadang di mall, diskotik, alun-alun, lewat internet, chatting terus ketemuan, hancur pokoknya!
Saat kuliah di situ, saya diajak teman kampus untuk mengedarkan VCD porno kaum gay. Gara-gara itu saya sempat diskors kampus. Kembalilah saya ke Medan, ketemu lagi dengan Pak Eddy. Setahun beliau mengonseling dan mendisiplin saya.
Balik dari Medan, saya kembali pelayanan. Mungkin dari sikap sungguh-sungguh itu saya diberi kesempatan oleh kampus untuk menyelesaikan sarjana teologi.

Tertemplak Kisah Ryan
Waktu gencar-gencarnya kisah Ryan, saya tertemplak. Saya ikut retret dan memberi kesaksian lalu banyak yang mendukung saya untuk ikut Kamp pria sejati melalui Christian Men’s Network (CMN). Sudah lahir baru dan ikut kamp tetap saja ada dosa-dosa begitu walau memang intensitasnya tidak sebanyak dulu. Bedanya adalah saya tidak bisa lagi menikmati hubungan seks seperti itu.
Saat ikut kamp pria sejati saya bertemu pak Angelo yang kini meng-covering saya. Sekarang saya benar-benar tobat dan berada dalam komunitas yang sehat dengan pengawasan Pak Angelo. Beliau yang menolong saya untuk cinta Tuhan dan meninggalkan kebejatan. Saya ikut komsel umum, jadi tidak hanya pria saja tapi ada wanitanya juga. Saya senang ikut kamp karena disitu diajari bahwa apa yang Tuhan minta, itu yang kita lakukan. Alkitab punya otoritas buat kita dan kami sebagai pria punya komitmen.
Sejak saat itu, saya tidak lagi mimpi-mimpi buruk tentang trauma pelecehan seksual yang saya alami dan peristiwa seksual yang terjadi atas kehendak sendiri. Tuhan menguduskan saya. Saya rindu orang-orang seperti saya diubahkan Tuhan. Kalau ada pembaca yang ingin diubahkan tapi takut atau malu, bisa menghubungi saya di 081396844580.
Dari CMN, School of Healing, dan tumpang tangan serta konseling hamba-hamba Tuhan, Bahwan mengajak kita terbuka tentang masa lalu buruk. “Kalau slogan dunia bilang, ‘Ini hidup gue. Gue mo ancur, suka-suka gue!...’ Tapi dalam Tuhan tidak begitu. Kesungguhan hati kita untuk bertobat, bisa menjadi berkat untuk orang lain. Jangan takut untuk diejek, jangan takut untuk terbuka, jangan takut mengatakan kebenaran. Pornografi, seks menyimpang, onani, masturbasi, perkataan-perkataan cabul, satu paketlah itu. Itu tipuan iblis!”, pungkasnya.

YESUS KRISTUS mengasihi Anda..
 (Sumber: Majalah Bahana, Oktober 2009)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home