Christopher Yuan : Meninggalkan Kehidupan Ganda (Homo)
Biografi Dr. Christopher
Yuan
Apa yang bagi banyak orang merupakan mimpi terburuk menjadi kenyataan dalam
diri Christopher Yuan. Saat mengambil kuliah di fakultas kedokteran gigi, dia
mulai menjalani hidup sebagai seorang homo yang bergonta-ganti pasangan dan
berbisnis obat-obatan terlarang secara sembunyi-sembunyi. Tidak lama setelah
itu, ia dikeluarkan dari tempat kuliahnya, dimasukkan ke penjara karena menjual
obat-obatan terlarang (narkoba) dan diberitahu bahwa ia terkena penyakit AIDS! Namun
Tuhan telah mengubah mimpi buruknya menjadi kisah yang menarik dan
menginspirasi tentang penebusan, karunia dan transformasi. Dr. Christopher Yuan
memiliki hati yang memahami dan suatu kerinduan untuk melayani orang-orang yang
pekerjaannya terkait dengan masalah seksual dan orang-orang yang menderita HIV
/ AIDS. Dia telah menjadi pembicara di AS dan luar negeri di antara para
pemuda, mahasiswa, gereja-gereja dan penjara-penjara. Christopher lulus dari
Moody Bible Institute tahun 2005, meraih gelar Master of Arts dari Wheaton
College Graduate School dalam bidang Biblical Exegesis dan mencapai gelar
Doktor of Ministry dari Bethel Seminary pada tahun 2014. Dia sekarang mengajar di Moody sambil terus aktif menjadi
pembicara yang telah menjangkau lima benua di dunia.
Cuplikan kisah Dr.
Chistopher Yuan
Sama seperti kebanyakan keturunan Tionghoa lainnya, papa dan mama bersikukuh
memegang teguh tradisi Tionghoa. Jadi meskipun hidup di
Amerika, kami tidak sama dengan lingkungan. Walau lahir
di Amerika, saya selalu merasa berbeda dengan teman-teman. Saat kanak-kanak,
teman-teman sekolah dengan kejam suka
mengejek anak-anak lain yang berbeda seperti saya. Apalagi perawakan tubuh
saya pendek dan lebih pendek dari
teman-teman. Saya main piano dan belajar
dengan keras di sekolah. Saya tidak begitu pandai dalam olahraga seperti
anak-anak laki lainnya. Saya memakai kaca mata sehingga dijuluki "si mata empat" dan mereka mengejek mungkin
karena saya orangnya halus dan lebih menyukai seni.
Saat berusia 9 tahun, saya menonton film porno di rumah seorang teman dan mulai merasa berbeda. Film tersebut telah membangkitkan sesuatu di dalam diri saya yang selama ini tidak saya sadari. Saya perhatikan saya tertarik baik oleh gambar laki-laki maupun perempuan. Saya pun memutuskan untuk merahasiakan perasaan ini dengan harapan akan hilang dengan sendirinya namun ternyata gagal. Perasaan ini terus timbul dan saya menyembunyikannya dari orang tua dan teman-teman hingga suatu saat saya merasa tidak sanggup lagi. Pada usia 20 tahun saya mulai mengunjungi bar kaum homo tanpa sepengetahuan orang tua dan teman-teman dan kemudian semakin aktif secara seksual. Saat ke luar rumah untuk melanjutkan studi kedokteran gigi, saya memutuskan untuk membuka rahasia saya dan mulai hidup dalam dunia homo sepenuhnya. Saat itu saya merasa benar-benar bisa memuaskan diri dan bereksperimen dengan perasaan-perasaan yang telah saya simpan selama ini.
Suatu kali saat berada di rumah, saya
memberitahu orang tua tentang
seksualitas saya. Saya telah mendengar cerita-cerita mengerikan tentang bagaimana reaksi orang tua teman-teman saya
dan bagaimana mereka diusir dari rumah dan tidak boleh balik. Namun orang tua saya tidak demikian.
Papa merasa putus asa dan kehilangan semua harapan. Mama merasa malu, terkhianati, tertolak, terpukul, dan
sangat sedih. Baginya tidak ada kata-kata yang bisa
melukiskan perasaannya saat itu.
Setelah mendengar pengakuan saya, mama memutuskan untuk mengakhiri hidupnya namun entah mengapa dia ingin menemui dengan seorang pendeta terlebih dahulu. Hal ini aneh karena mama adalah seorang ateis seumur hidupnya. Dia pun menemui seorang pendeta yang memberinya sebuah brosur mengenai homoseks. Mama pun membacanya dan sangat tertarik. Brosur itu menerangkan bahwa kita semua adalah orang-orang berdosa namun Tuhan mencintai kita walau membenci dosa kita. Mama berpikir dia tidak bisa mencintai saya karena perbuatan saya, tetapi jika Tuhan bisa mengasihinya dan melepaskan dosa-dosanya, maka dia bisa juga mengasihi saya terlepas apa yang telah saya perbuat. Kemudian Tuhan berbicara ke dalam hatinya, "Kamu adalah milikku." Firman ini benar-benar menyentuh hatinya. Dia pun bertobat dan menjadi pengikut Yesus. Awalnya papa tidak menyukai itu namun papa melihat perubahan yang nyata dalam hidup mama yang terjadi karena hubungan pribadinya dengan Yesus, sehingga papa pun memutuskan untuk pergi ke gereja dengan mama. Pada akhirnya dia pun menyerahkan dirinya kepada Yesus.
Orang tua saya memutuskan untuk terus berdoa bagi saya. Pada waktu itu di siang hari saya belajar sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi sedangkan di malam hari saya terjun semakin dalam dunia gay yang penuh dengan seks bebas dan obat-obatan. Saya berkeliling Amerika sambil memakai dan menjual obat-obatan sehingga banyak ketinggalan pelajaran. Saya pikir saya bisa menjalani kehidupan ganda dan memisahkan antara kehidupan liar saya dan kehidupan sebagai mahasiswa. Namun tak lama kedua kehidupan itu mulai berbenturan dan saya pun dikeluarkan dari universitas 3 bulan sebelum wisuda.
Setelah dikeluarkan dari universitas, saya menghabiskan diri saya dengan terjun sepenuhnya dalam komunitas homoseks, terutama di bar dan klub homo. Saya mulai melakukan keahlian dalam menjual obat-obatan. Saya mendapat banyak uang dan melakukan seks bebas yang bisa beberapa kali dilakukan dalam sehari. Saya ingat saat orang-orang memperlakukan saya laksana seorang "bintang besar" dan mengira saya ini tak terkalahkan. Saya benar-benar berpikir bahwa saya ini tuhan. Namun, orang tua saya tidak kehilangan harapan walaupun saya menolak berbicara dengan mereka.
"Setiap pagi sebelum memulai hari, saya masuk ke dalam kamar doa saya dan salah satu doa saya adalah, 'Tuhan berbelas kasihanlah pada anak ini.'" Kisah ibu saya. Tuhan pun menjawab doanya dengan sebuah ketukan di pintu saya. Saya membuka pintu dan saya melihat orang-orang yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Mereka adalah polisi anti-narkoba. Tepat di belakang saya ada obat-obat terlarang milik saya di atas meja dapur. Karena mereka melihat dengan jelas barang-barang itu, mereka masuk dan menangkap basah saya. Saya dituduh memiliki narkoba sebanyak 9,1 ton ganja.
Hanya dalam waktu 3 hari mereka memenjarakan saya. Sesuatu dalam tong sampah menarik perhatian saya. Saya melihatnya dari ujung mata saja dan itu adalah sebuah Alkitab versi Gideon. Untuk pertama kalinya saya membuka Alkitab. Seraya membaca buku itu, saya mulai merasa bersalah atas pemberontakan saya, tidak hanya terhadap hukum dan manusia, tetapi juga terhadap Tuhan. Saya sadar bahwa ada ganjaran atas tindakan-tindakan saya.
Mereka mengirim saya ke kantor perawat. Sang perawat menuliskan sesuatu dan menggesar kertas itu ke arah saya. Saya pun melihat ke bawah ada 3 huruf dengan satu simbol, yaitu HIV+. Saya kembali ke sel penjara dan merasa seakan-akan saya baru saja dijatuhi hukuman mati. Saya berbaring dan melihat ke atas tempat tidur bertingkat yang penuh dengan tulisan grafiti. Saya melihat ada sebuah coretan kecil yang berbunyi, "Jika kamu merasa bete, bacalah Yeremia 29:11 'Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.'" Saat itu mungkin adalah masa tergelap yang penuh dengan keputusasaan dalam hidup saya setelah dihukum selama 6 tahun dan kemudian menerima kabar tentang status HIV saya. Malam itu Tuhan memberikan saya cukup iman untuk bertahan hingga keesokan harinya.
Saya pun berserah kepada Tuhan melalui proses setahun. Saya tahu bahwa saya tidak bisa lagi hidup menurut cara saya dan cara dunia. Saya harus menyerahkan semua harapan dan impian saya kepada-Nya. Dengan berkembangnya hubungan pribadi saya dengan Yesus, saya semakin kesulitan untuk membenarkan gaya hidup homoseks. Saya terus membaca Alkitab. Saya mencari tiap ayat, tiap bab tiap halaman dalam Alkitab untuk membenarkan prilaku homoseks tetapi saya tidak menemukan pembenaran itu. Saya pun ada pada titik balik dan saya harus membuat suatu keputusan. Apakah saya akan meninggalkan Tuhan dan firman-Nya dan hidup sebagai seorang homoseks dan membiarkan perasaan saya mendikte siapa saya atau apakah saya akan meninggalkan prilaku homoseks dengan membebaskan diri dari perasaan saya dan hidup sebagai murid Yesus Kristus? Keputusan saya jelas dan nyata. Saya memilih Yesus.
Saya keluar dari penjara setelah menyelesaikan masa hukuman saya. Sekarang hubungan saya dengan orang tua saya telah dipulihkan. Saya adalah pembimbing dia Moody Bible College di Chicago dan saya hidup setiap harinya dengan tujuan yang jelas. Hari-hari kita ini cepat berlalu. Tidak seorang pun punya kepastian akan hari esok. Namun, kebanyakan dari kita hidup seakan-akan kita memiliki kepastian itu. Saya harus terkena HIV untuk bisa menyadari bahwa saya harus hidup seolah-olah saya akan segera mati. Saya tidak lagi didikte oleh seksualitas saya. Jati diri sebagai anak Tuhan hanya boleh di dalam Yesus Kristus saja. Saya membaca ayat-ayat Alkitab seperti, "Kuduslah kamu, karena Aku kudus!" Saya awalnya selalu berpikir lawannya homoseks adalah heteroseks tetapi sekarang saya sadar bahwa lawannya homoseks adalah kekudusan. Tuhan berfirman kepada saya, "Jangan fokus kepada perasaanmu. Jangan juga fokus kepada seksualitasmu. Fokuslah kepada hidup kudus dan murni." Menjadi pengikut Yesus memang tidak mudah. Mungkin saya bergumul dari waktu ke waktu tetapi Tuhan memberikan saya kasih karunia-Nya. Dia sudah mengklaim kemenangan di kayu salib. Meskipun saya bergumul, saya tidak terikat.
Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."(Kisah Para Rasul 16:31)
Labels: gay, homoseks, kesaksian, pertobatan
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home